Stop Posting Pembenaran atas Ketidakidealan Sekolah Online

Beberapa kali atau justru masih sering saya menemukan postingan mengenai tidak idealnya sikap anak atau orang tua dalam menyikapi sekolah online di masa pandemi. Entah itu postingan serius yang faktanya ada, atau hanya sekedar lucu-lucuan.

Contohnya :

  1. Cerita ibu yang menyerah karena tidak siap mengajar anaknya sehingga khawatir ada perubahan dari kegiatan belajar mengajar menjadi ajang hajar menghajar (semacam itulah, saya lupa persis kalimatnya). Ia pun menuntut sekolah offline tatap muka segera dibuka kembali.
  2. Sikap orang tua yang mengirimkan foto uang untuk membayar SPP sekolah via WA. Alasannya, yang mengajar kan orang tua.
  3. Sikap anak yang belajar serius hanya beberapa menit. Selebihnya malah rebahan.
  4. Dan lain sebagainya.

Apa dampak postingan seperti itu?

Permakluman.

Bisa jadi akan muncul banyak orang tua yang semakin memaklumi sesuatu yang tidak ideal.

Ini sangat berbeda dampaknya ketika ada teman yang posting foto anaknya yang sedang belajar serius secara online di Zoom. Setor hafalan, kerjakan tugas, dan lain sebagainya.

Apa reaksi saya?

Oh, anak teman-teman bisa serius belajar, orang tuanya bisa serius mendampingi anaknya. Saya pun harus berusaha agar bisa seperti itu. Ini menumbuhkan sikap semangat untuk terus memperbaiki diri.

Bagaimana ketika yang diposting foto anak yang kelihatan malas belajar? Cerita orang tua menyerah?

Pembaca lain pun bisa terpengaruh : “Oh, ternyata Aku banyak temannya ya nggak bisa ngurus anak.”

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama saling mensupport agar tambah semangat mendampingi kegiatan belajar anak-anak kita. Boleh saja berdiskusi mengenai bagaimana cara membuat anak serius belajar. Tujuannya agar didapatkan hasil yang lebih baik lagi. Bukan untuk mencari pembenaran. Orang tua tidak boleh menyerah. Apapun alasannya. Harus tetap berjuang, berusaha sebaik-baiknya untuk pendidikan anak-anaknya.

Kegiatan belajar mengajar secara online di masa pandemi memang tidak mudah. Tidak hanya bagi orang tua, tapi juga anak-anak, para guru, termasuk Mas Menteri. Marilah kita saling berlomba memberikan kontribusi positif. Minimal dengan membagikan hal-hal positif.

Farid Ma’ruf – Founder Komunitas BaitiJannati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *