Bullying dan Gaslighting

Oleh : Hesti Rahayu

Saya mengenal seseorang seumuran saya yang menurut pengakuannya, dia punya pengalaman bullying semasa sekolah dulu, dan itu sangat menyakiti hati dan perasaannya… hingga kini.

Menjadi kenangan buruk dan mempengaruhi sikap dan cara berpikirnya. Dan di beberapa sisi menimbulkan obsesi semacam penambal ‘inner child’ yang hampir tak pernah terurai dan tersembuhkan. Meski di sisi lain dia normal, mampu berkeluarga dan berkarir.

Orang tua zaman itu tidak memahami kalo anaknya terkena bully di sekolah. Apalagi prestasi akademiknya bagus, selalu juara kelas, dan rajin belajar.

Dikutip dari situs kemenpppa.go.id bullying (perundungan) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus-menerus.

Bullying mengandung banyak definisi, tetapi yang lazim dipahami orang saat ini adalah school bullying yang biasa terjadi di sekolah. Diakui kemenpppa, kasus bullying yang kerap terjadi di dunia pendidikan di Indonesia kian memprihatinkan.

Bagi orangtua, memang butuh kepekaan tersendiri dalam memahami anak korban bullying. Karena terkadang anak tidak mampu cerita terus terang akan keadaan dan perasaannya, atau mungkin cerita pembullyan itu diremehkan, dianggap candaan biasa, “Nggak usah sensi menanggapinya,” mungkin begitu respon ortu.

Anak akan menampakkan sikap2 aneh, pendiam, canggung dsb yang di sisi lain merupakan respon atas bullying, tapi celakanya….kadang memicu bullying berikutnya.

Maka anak bisa tenggelam dalam lautan kesedihan, nelangsa, bahkan putus asa dan ingin bunuh diri.

Hmm…kasian bukan?


Beda lagi dengan Gaslighting.

Dikutip dari halodoc.com, Gaslighting adalah bentuk manipulasi yang biasanya terjadi dalam hubungan yang tidak sehat.

Bentuk manipulatif ini dilakukan oleh seseorang untuk terlihat berkuasa dan dapat mengontrol orang lain dengan cara membuat korbannya tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Ketika hubungan manipulatif ini berlangsung terus-menerus, maka akan timbul perasaan ragu dan mempertanyakan diri sendiri yang melemahkan psikologis korban dan membuatnya mempertanyakan realitas. Akibatnya korban akan mengalami kecemasan, depresi, sampai mental breakdown.

Pelaku gaslighting biasanya adalah orang yang pandai berbohong, bersikap manipulatif dengan membuat seolah-olah tidak bersalah. Malahan mungkin si korban yang akan merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang pelaku. Di korban akan terpojok, tidak yakin dengan penilaiannya sendiri, dan diliputi rasa diri bersalah terus-menerus.

Dalam sebuah kasus yang pernah saya dengar, ada sepasang suami istri yang suaminya ternyata adalah gaslighter.

Di awal pernikahan dia tampil bak pangeran tampan berkuda putih yang hadir dalam kehidupan si wanita. Sampai akhirnya terkuaklah segala sifat buruk manipulatif dari si suami ini.

Ketidakmampuan suami ini (dalam hal finansial, pengendalian diri, dan emosi) selalu dia timpakan ke istri. Istri dihancurkan rasa percaya dirinya. Dilontarkan kata-kata : “Kamu perempuan nggak bener, harusnya kamu jadi perempuan sholihah. Coba kalo kamu sholihah, pasti aku ngga bakalan kayak gini.”

“Kamu tu perempuan gobl*k, jelek, gemuk. Kalo kamu cantik dan sholihah, aku nggak bakalan gini. Ini semua kesalahan kamuuu…!”

Perkataan seperti itu dilontarkan tiap kali suaminya morotin duit si istri, untuk membayar foya-foya…dan mungkin judi suaminya di luar sana.

Jadi siapa yang salah, siapa yang dituntut baik, dan siapa yang harus minta maaf, semua dimanipulasi.

Naahh… Rumit kan….?

Dalam hubungan pertemanan pun, gaslighting bisa terjadi. Jadi ya semacam toxic friend gitu. Teman tapi beracun.

Lalu solusinya bagaimana?

Tentu kalo mencari solusi…bisa beberapa sisi ya. Secara pribadi/ individu, keluarga, masyarakat, dan sistem yang berlaku di level negara.

Secara pribadi/ individu, maka solusi paling utama ada kesadaran diri si korban. Apakah dia korban bullying, atau gaslighting.

Ketika sadar, dia harus mampu memberikan perlawanan. Meminta bantuan orang terpercaya dan kapabel juga perlu diupayakan.

Targetnya, korban harus lepas dari situasi bullying dan gaslighting ini.

Kalo pelajar, berarti ortu harus peka, kalo perlu pindah sekolah yang lebih aman dari bullying.

Kalo gaslighting dalam rumah tangga, bisa dilakukan mediasi dan penyadaran ke pelaku, atau kalo mentok, terpaksa bercerai. Duuhh…

Dukungan keluarga sebagai support sistem utama, sangat berperan di sini.

Dari sisi masyarakat, berarti harus ada kesepahaman terhadap permasalahan ini ya. Jangan sampe bullying dianggap sekedar candaan, dan gaslighting malah dianggap sarana biar si korban tau diri.

Mereka menangis meski dalam jeritan tak terdengar.

Dan negara, mestinya lebih mampu menciptakan situasi kondusif dalam sistem pendidikan, serta menjaga keluarga-keluarga agar tetap utuh dan berfungsi dengan baik.

Para bullyers dan gaslighter biasanya muncul dari keluarga2 broken home, atau keluarga yang abai, tidak mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, plus tak punya ilmu yang cukup. Ilmu cukup ini tidak harus karena berpendidikan tinggi ya. Karena ilmu bermanfaat bisa diperoleh dari mana saja.

Wallahu a’lam bisshowwab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *