Saat Bercerai Menjadi Pilihan

Oleh : Farid Ma’ruf

BaitiJannati – Begitulah judul pengajian yang besok akan diisi istri saya. Entah apa latar belakang pemikiran panitia pengundang sehingga meminta tema pembahasan tersebut. Apakah mungkin sedang banyak rumah tangga galau di ambang perceraian?

Hmm.
Mungkin ini memang judul pengajian anti mainstream.

Biasanya yang saya temukan itu pengajian yang berisi motivasi agar segera menikah. Tidak jarang pula orang yang melakukan provokasi agar segera menikah. Sementara pembahasan perceraian di dalam forum pengajian amat sangat jarang saya temukan.

Tapi bisa jadi judul ini memang ada latar belakangnya.

Cepat-cepat menikah (tanpa kesiapan memadai) ternyata berhubungan dengan angka perceraian yang tinggi. Banyak pasangan yang bercerai adalah orang-orang yang menikah di usia muda. Banyak kasus perceraian dilakukan oleh pasangan yang berusia di bawah 35 tahun. Perceraian juga banyak terjadi pada usia pernikahan di bawah 5 tahun.

Faktor pemicu perceraian lainnya adalah masalah ekonomi dan pekerjaan.

Nah, Anda ingin bagaimana?

Nikah cepat-cepat dan cerai cepat-cepat?
Atau nikah dengan persiapan yang matang sehingga menjadi pasangan bahagia sampai menutup mata?

Di sini bukan masalah nikah di usia muda atau tua yang menjadi masalah.
Tapi masalah kesiapan.

Nabi SAW bersabda :
“Wahai para pemuda, siapa yang mampu menanggung beban pernikahan maka hendaklah dia menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, dan siapa saja yang tidak mampu, maka hendaklah baginya berpuasa, karena sesunguhnya puasa itu adalah perisai baginya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Yang diseru untuk menikah adalah para pemuda yang sudah ba’ah (mampu menanggung beban).

Jadi pemuda yang layak menikah itu jika sudah mampu menaggung beban-beban di dalam pernikahan, misalnya :
1. Jima’
2. Nafkah.
3. Kepemimpinan.

Kalau belum siap menjadi pemimpin, maka jangan menjadi pemimpin. Belajar dulu, latihan dulu, praktik dulu dalam kasus-kasus lain. Pengalaman berorganisasi bisa menjadi salah satu bekal yang bermanfaat.

Jangan melakukan pernikahan dengan model coba-coba. Kasihan orang-orang yang menjadi hasil percobaannya. (www.baiti.my.id)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

*

code